RSS

Indonesia (Tidak) Butuh Mahasiswa Bermental Preman.

16 Mar

Masih hangat diberitakan pada media massa kasus yang baru-baru ini mencuat akan aksi sekelompok mahasiswa yang merusak pigura foto Presiden SBY yang berada di dalam gedung DPR-RI. Aksi ini dipicu ketidakpuasan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Barat terhadap hasil pertemuan dengan Wakil Ketua DPR Pramono Anung. Ketidakpuasan mahasiswa karena ada salah satu butir tuntutan yang diduga dihapus. Bunyi tuntutan itu terkait tuntutan diturunkannya Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono. Adapula yang baru-baru ini juga terjadi, kasus pengrusakan fasilitas-fasilitas publik maupun pemerintah yang dilakukan mahasiswa ketika aksi demo mahasiswa menolak kenaikan harga BBM.

Kasus-kasus di atas hanya secuil kecil tindak tanduk generasi muda yang menuntut hak dan keadilan dengan cara yang salah. Unjuk rasa atau demonstrasi, adalah sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik olehkepentingan kelompok. Demonstrasi yang dilakukan mahasiswa biasanya digunakan sebagai penolakan akan kebijakan pemerintah yang dirasa kurang ‘pas’ dan tidak pro-rakyat.

Di mata hukum Indonesia yang notabenya berasaskan demokrasi, demonstrasi sendiri itu adalah kegiatan sah untuk menyuarakan aspirasi, kebebasan bicara, atau menyatakan pendapat. Demonstrasi sendiri tidak dilarang selama aman dan tertib. Namun kenyataan yang terjadi kebanyakan demonstrasi yang dilakukan mahasiswa selalu berujung kerusuhan dan pengrusakan atau tindakan yang berakibat merugikan diri mereka maupun  orang lain. Sebagai contoh, aksi blokir jalan, pengrusakan fasilitas umum maupun pemerintah, aksi bakar ban, aksi pemukulan, atau aksi lempar batu dan bom molotof. Dilihat dari tindakan mereka mana yang mencerminkan mereka pihak yang memiliki intelektual, berpendidikan, dan berakal baik. yang terlihat hanya tindakan mereka yang terkesan anarkis dan urakan. Apa mereka layak di sebut mahasiswa? atau lebih pantas disebut preman? atau malah sebenarnya preman berkedok mahasiswa?

Coba kita pikirkan dan renungkan baik-baik, khususnya bagi kita generasi penerus bangsa ini. Berapa banyak waktu yang terbuang hanya untuk berteriak-teriak tanpa manfaat yang akhirnya menimbulkan kerugian bagi diri kita dan orang lain. Dan andaikan waktu yang terbuang itu kita gunakan untuk kegiatan yang positif dan produktif guna memajukan negara kita, berapa besar manfaat yang akan dirasakan negara kita ini, dirasakan bangsa kita ini, besar, saya yakinkan itu akan sangat besar. Lalu, coba kita pikirkan, andai saja uang yang negara keluarkan untuk memperbaiki fasilitas yang dirusak akibat kerusuhan yang kita buat, dialokasikan untuk membangun sekolah, membangun jembatan, atau bantuan sosial, bantuan pendidikan. Berapa banyak anak yang putus sekolah dapat kembali bersekolah lagi, berapa banyak warga masyarakat yang sakit dan kesulitan biaya dapat segera diobati, berapa banyak warga miskin yang kelaparan bisa makan lagi, banyak, saya yakin banyak yang akan mendapatkan manfaat itu.

Ingat, Kita generasi muda penerus bangsa, gunakan otak dan tenagamu untuk menghasilkan prestasi, bukan ototmu untuk hasilkan anarki. Kita mahasiswa berintelektual, bukan preman yang tak berakal. Maju Terus Mahasiwa Indonesia! Raihlah Prestasimu! Harumkan Bangsamu!

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 16, 2012 in Opini

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: